Pesta Rock-Metal
Jakarta – Bukan sebuah keistimewaan ketika sekitar 3.700 orang memadati Tennis Indoor Senayan, Selasa (7/8) malam. Sebuah band asal California, Amerika Serikat, tengah berkonser.
Mereka adalah Avenged Sevenfold. Band rock metal itu diam-diam sudah dinantikan komunitas musik di Indonesia. “Kami sudah menerima email dan surat dari Indonesia sejak 1999. Terima kasih dari lubuk hati yang paling dalam,” kata Matthew Shadows, vokalis band yang sering disingkat A7X ini di hadapan penonton.
Padahal, di tahun 1999 itu mereka baru saja berdiri, ketika pertama kali meluncurkan album Sounding the Seventh Trumpet, di bawah label Good Life Recordings, di saat usia mereka masih 18 tahun. Album pertama belum mendapat sambutan positif dari pencinta musik mainstream. Ketika meluncurkan album kedua, Waking the Fallen, sambutan positif berdatangan dari mana-mana, termasuk majalah musik Rolling Stones.
Dibuka oleh penampilan band asal Yogyakarta, Endank Seokamti, penampilan A7X langsung menggebrak dengan intro gabungan permainan Synyster Gates (gitar), Zacky Vengeance (gitar), Johnny Christ (bas), dan The Rev (drum). Shadows muncul kemudian dengan “Beast & the Harlot”, satu single dari album ketiga mereka City of Evil.
Nuansa old school metal terasa di sini. Ini adalah gambaran vokal Shadows terakhir setelah ia menjalani operasi tenggorokan seusai menjalani tur album kedua, Waking the Fallen. Shadows yang penuh teriakan itu konon menjadi lebih kalem dengan membawakan lagu-lagu yang lebih melodius seperti di album City of Fallen ini.
Siapa sangka, penonton yang memiliki dandanan nyaris serupa, berbaju hitam dengan rambut berponi itu dapat mengikuti Shadows bernyanyi. A7X memang memiliki banyak penggemar di Asia, termasuk Indonesia.
Dan mereka meminta maaf, permintaan penggemar Indonesia untuk berkonser di sini baru bisa tersampaikan setelah mereka hendak merilis album selftitled yang akan rilis pertengahan Oktober mendatang. “Ini salah satu album terbaik kami, kami mengumpulkan materi, dan ini album yang sudah kami inginkan sejak dahulu,” kata Shadows sedikit berpromosi.
Religius
Tidak ada rokok dalam konser yang dipromotori Java Musikindo ini, sebuah kondisi yang berbeda dengan konser-konser sebelumnya. Adri Soebono bukan lagi menggandeng perusahaan rokok ternama, tapi perusahaan minuman yang notabene biasanya hanya menjadi sponsor pendamping.
Shadows dkk memang para religius yang mengikuti jalan hidup sehat ala Alkitab, seperti nama mereka yang juga diambil dari sana. Agak bertolak belakang dengan musik mereka, namun itulah A7X yang malam itu hanya tampil sekitar satu jam dengan 10 lagu. Selain Beast & the Harlot, Shadows juga sempat membawakan “Burn It Now”, “Unholy Confessions”, “Chapter 4”, “Seize the Day”, Trashed & Scattered”, “Almost Easy”, “I Want to See You Tonight”, dan “Bat Country” yang kebanyakan dari album ketiga mereka.
Dalam beberapa kesempatan wawancara, Shadows dkk memang tidak banyak bercerita. Perjalanan dari Amerika Serikat menuju In-donesia sempat membuat mereka jetlag. Untunglah, jetlag itu sudah berakhir di saat mereka berkonser. Shadows dkk tampil maksimal, meskipun tidak lebih dari satu jam dan penonton masih berteriak, “We want more!” . n