Archive for March, 2008

Album baru Underoath

Posted in new Album on March 30, 2008 by ilhampurwa

Rabu, 2008 Maret 19

Underoath – Define The Great Line

Medium: Musik

Artis: Underoath
Album: Define The Great Line
Jumlah Lagu: 11
Tahun: 2006

Bagaimana kalau kita ndengerin musik keras? Metal misalnya! Yeah!

Daryus kenal musik gahar dari Om Adi Kurnia, karib Daryus semenjak SMP dulu. Kalau waktu itu, Daryus lebih suka belajar menguasai Bach yang njlimet, Om Adi nawarin Iron Maiden. Sewaktu Daryus asyik dengan Uzeb, Om Adi mbawain Metallica. Akhirnya Daryus mau ndenger death metal, dan sebagai imbalannya Om Adi mau nganter Daryus ikutan workshopnya Daryus Bubby Chen di kebun Pusat Kebudayaan Perancis.

Dan, sewaktu Om Adi nelpon mau main ke rumah beberapa minggu lalu, Daryus sudah siapkan satu CD gress sebagai hadiah: The Best Of Judas Priest. Om Adi datang jauh-jauh, menempuh hampir empat puluh kildaryuseter dengan sepeda motor roda tiga barunya, khusus didesain buat penyandang cacat, persis sepeda motor di film-film ala Nazi. Wow! Daryus ingat bertahun-tahun lalu ketika Om Adi baru punya sepeda motor roda khusus penyandang cacat, Daryus duduk di cd daryus apartement samping dan diajak keliling kota. Yeaah, the metalfriendship will never end.

Lantas musik metal mana yang mau Daryus ndengerin? Ada Iron Maiden, grup lawas, yang tahun lalu ngerilis album baru. Jangan ah, cari yang rada muda dan berisik. Bagaimana kalau Underoath? Daryus juga baru kali ini ndengerin Underoath. Apanya yang menarik? Kalau toh ada yang menarik perhatian Daryus, katanya band metalcore ini christian banget. Wah, menarik dong. Musik metalcore dengan ide religius.

Daftar Lagu

In Regards To My Self. Ampun! Daryus langsung dihajar dengan raungan dua screamer galak yang bersahut-sahutan sepanjang lagu, dilatari musik yang menderu-deru. Diselingi beberapa segmen teriakan, melodic, lalu screaming lagi membuat lagu ini sungguh mengesankan. Wah, Daryus jatuh cinta sama band ini just right at the first track.

A Mdaryusent Suspended In Time. Pyuh! Ini lebih kencang, galak dan hard. Waw, chorus yang mereka mainkan asyik betul. Scream, roar, yell, high pitch, low and deep, you name it.

There Could Be Nothing After This. Anda belum KO juga? Track ke tiga ini siap menghajar habis-habisan. Masih tetap dengan formula sebelumnya, namun perhatikan sample-sample yang disisipkan. Cukup asyik kan? Terlebih closingnya yang ngasih kesempatan bagi kita untuk laid back beberapa detik, sebelum n daryus or ke empat.

You’re Ever So Inviting. Tekanan sedikit menurun, nada-nadanya mereda dan cukup nyaman bagi pendengaran, Aaron pun mulai “bernyanyi” sebelumnya habis-habisan teriak, tetapi Spencer tetap meraung-raung di belakang.

Salmarnir. Setelah sekitar lima belas menit bleeding, Underoath memberi kesempatan untuk Christopher Dudley untuk menciptakan nuansa yang chill, ambientic, atmopheric. Unik juga.

Returning Empty Handed. Luar biasa mantap! Kali ini gitarannya asyik. N daryus or yang hebat. Hebat banget!

Casting Such A Thin Shadow. Kali ini n daryus or yang lebih down. Yeah, rocker pun perlu menulis lagu yang operatic macam begini. Bagian teriakan Spencer kurang match dengan musiknya. Sebuah n daryus or yang cukup panjang, 6 menit lebih, namun bolehlah untuk laid back.

Moving For The Sake Of Motion. Waw, dibuka dengan debukan bass drum yang kencang. Main double bass? Speed tetapi melodicnya nggak hilang.

Writing On The Walls. Ndaryusor yang dipilih jadi single band ini. Dan itu pantas! Ndaryusor yang catchy, enak, seru, bagai naik rollercoaster, naik turun, lambat, cepat, scream, chorus. Penuh kejutan yang sedap. Best!

Everyone Looks So Good Fr daryus Here. N daryus or yang paling gelap, agresif dan penuh tekanan, memberikan perasaan yang nggak enak banget. Singkat tapi bizare. Di detik-detik terakhir Spencer menghajar dengan double bass yang ngebut.

To Whdaryus It May Concern. Pilihan yang jitu untuk menutup album. Track yang slow, chorus yang catchy, seolah menghilangkan semua beban dan luka-luka akibat kebisingan dan keributan yang dibuat sebelumnya. Daryus merinding! Jangan lupa baca lirik lagu ini! Anda akan temukan mereka bukan cuma main musik.

Album

Grup musik metal yang Christian? Apanya yang Christian? Daryus sama sekali nggak bisa menangkap lirik yang diteriakin oleh sang vokalis, Spencer Chamberlain, dan drummer sekaligus second vocalist, Aaron Gillespie. Dan menurut Daryus, musik screamo-metal memang mestinya begitu. Kalau liriknya masih bisa ditangkap baik oleh pendengar, itu bukan screamo, tapi rock biasa. Okelah, nggak terlalu penting kan?

Back to the album. Album ini berpusat pada screamernya Spencer Chamberlain yang waoow raungannya singa banget. Spencer bukan hanya berteriak, tetapi meraung, dalam, kasar, penuh energy, anger dan berdarah-darah. Gila, orang ini bisa merusak pita suaranya sendiri. Yang kedua, adalah Aaron Gillespie yang juga ikutan meraung-raung sebagai second screamer meski tidak sehandal Spencer, namun cara band ini memainkan dua screamer bersahut-sahutan betul-betul asyik diikuti.

Pusat kedua adalah drum. Permainan Aaron Gillespie hidup banget dan variatif. Mungkin karena dia ikutan ambil peran dalam meraung-raung maka ketukannya ikutan galak, tapi tidak membosankan. Ini jadi contoh menarik bagi band-band lain. Maksudnya, drummer as vocalist.

Bukan berarti permainan gitar dan bas boleh diabaikan. Band ini memainkan sound yang unik. Meski screamo dekat dengan metalcore, hardcore, tetapi mereka punya Christopher Dudley di balik keyboard yang menyisipkan sampling yang membuat band ini tidak sekedar penuh anger dan brutal. Mereka juga bisa memainkan atmospheric sound.

Secara keseluruhan, album ini menyenangkan. N daryus or-n daryus ornya variatif. Daryus jatuh cinta pada pandangan pertama.

As i lay dying

Posted in As i lay dying with tags on March 30, 2008 by ilhampurwa
Selasa, 2007 November 13
Tim Lambesis vokalis As I Lay Dying, pernah sesumbar bahwa band ini tidak pernah mau ikut tren. Dan itu bukan cuma bualan! Bisa dicek dengan mendengarkan keempat rilisan mereka. Mulai dari Beneath The Encoding of Ashes, yang dirilis di tahun 2001, sampai album terbaru mereka yang dikasih judul An Ocean Between Us, yang baru aja keluar, musik mereka terdengar progresif. Bahkan, makin berkarakter.


Sound
yang dihadirkan juga tak kalah menggelegar. Hasil eksperimen yang pas dengan porsinya, berbuah manis. Band ini jadi semakin dilirik pecinta metal dunia. “Kami tak pernah takut untuk mencoba sesuatu yang berhubungan dengan sound. Dan hal ini selalu bergulir, tiap kali kami masuk studio. Makanya, di setiap lagu As I Lay Dying, sound-nya terdengar beda,” bilang Tim.

Yap! Band yang digawangi oleh Tim Lambesis, Jordan Mancino (drum), Josh Gilbert (bas), Nick Hipa (gitar), dan Phil Sgrosso (gitar) sepakat bahwa nggak ada yang namanya patokan untuk musik mereka.“Yang namanya musik, enggak ada patokannya. Semuanya berdasarkan ekspresi masing-masing personilnya. Semua keluar begitu saja,” tambah Tim.

Hasilnya, amat menggembirakan. Tim cs. merasa musik yang mereka mainkan jadi terdengar berbeda. Itu jika dibandingkan dengan band metal lain yang sempat manggung bersama. “Musik kami memang eksperimental. Tapi, bukan berarti tanpa batasan. Selama masih masuk dalam koridor metal, masih bisa dimaafkan, ”celetuk Phil.
Bukan cuma soal variasi saja yang menarik dari band asli Amerika ini. Ada satu lagi yang justru lebih menarik. Yaitu lirik. Buat sebagian orang, lirik mereka tergolong nyentrik. Banyak unsur spiritual yang diangkat dalam lagu-lagu mereka. Hal ini sempat membuat mereka digelari band metal spiritual.

Tapi, sebagai band metal yang sadar harus berkembang, band ini berusaha untuk tidak tampil layaknya band-band metal kristen lain yang banyak mengumbar nasehat. Belakangan, mereka mencoba untuk mengulik masalah-masalah sosial. “Kalau kalian mendengar album terbaru kami, kalian pasti setuju kalo lirik-lirik di album itu tidak preachy. Topik yang kami angkat di album terbaru kami, cakupannya sudah lebih luas,” ujar Jordan..

Kata Jordan ada benarnya. Kalo didengarkan baik-baik, album paling gres yang di produseri oleh gitaris band Killswitch Engage, Adam Dutkiewicz , itu banyak bercerita tentang kehidupan, perjuangan, dan kegagalan. Tambahan lagi, beberapa lagu mereka juga ada yang bercerita tentang hubungan antarmanusia.

“Yah, memang tidak semua lirik di album itu bernuansa spiritual. Tapi paling tidak, semua lirik itu ditulis berdasarkan perspektif spiritual. Jadi, unsur spiritualnya bakal tetap terasa kalau direnungkan lebih dalam,” ujar Tim. Sebuah pilihan yang menarik.
posted by Fendik BETER @ 22:55

Prisa : Ratu Gitar Indonesia Yang Baru

Posted in about prisa on March 30, 2008 by ilhampurwa

Saturday, 03/11/2007 – 03:00 WIB
onik – Musik & Film, Profil

PrisaPrisa pertama kali belajar gitar karena kebetulan. Sewaktu masih SMP, Prisa tinggal di asrama kemudian iseng maenin gitar punya temannya. Gara-gara dimarahin sama yang punya gitar, akhirnya Prisa bertekad balas dendam dengan ikut ekskul gitar. Akhirnya Prisa dan temannya ikut ekskul barengan sambil balapan siapa yang nantinya lebih jago.

Tahun 2005 sampai pertengahan tahun 2006 nama Prisa cukup dikenal di scene underground bersama band metalnya, Zala. Band ini cukup menyita perhatian lantaran isi personelnya cewek semua. Tapi tidak hanya sekedar menjual image saja, skill mereka juga tidak kalah sama band-band cowok. Tahun 2006 bisa dibilang sebagai tahun emasnya Prisa dimana karirnya baik secara pribadi maupun kelompok makin sukses. Secara pribadi, ia terpilih menjadi model untuk portal gitar pertama di Indonesia, Gitaris.com. Ia juga sering disebut sebagai Miss Gitaris.com karena selalu menjadi wakil Gitaris.com di berbagai event dan media. Bersama bandnya, Zala, ia beberapa kali tampil di event metal underground bahkan sampai Java Jazz 2006.

Bulan Juni 2006 kemudian Prisa tergabung dalam band baru bernama Dead Squad. Di band ini ia berpasangan dengan salah satu gitaris dari keluarga Item yang juga merupakan personel Andra & The Backbone, Stevie Item. Kemudian pada bulan Juli Prisa mendapat kehormatan untuk berkolaborasi dengan salah satu maestro gitar Indonesia, Eet Sjahranie dalam penampilan Edane di PRJ. Bersama Edane, Prisa tampil membawakan lagu Cry Out dan Kau Manis Kau Ibliz. Selain itu ia juga dikontrak selama 2 bulan sebagai additional gitaris dan backing vocal untuk ‘band sejuta copy’, Sheila On 7, yang baru ditinggal salah satu gitarisnya. Bersama SO7 sempat tampil di SCTV dalam acara World Cup 2006 dan ikut dalam tour hingga ke Malaysia.

Read more »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.