Sabtu yang Beda di A Different Saturday

Posted in event on April 11, 2008 by ilhampurwa

Satu lagi acara musik yang beda yang rencananya bakal digelar secara rutin: A Different Saturday! Gelaran pertama acara ini dilaksanakan Sabtu, 22 Desember 2007 kemarin di Viky Sianipar Music Centre, Manggarai, Jakarta Selatan. Band-band ciamik kayak Killed by Butterfly, Efek Rumah Kaca, Fall, Friends of Mine, Peewee Gaskins, dan Accidental Hero. Harusnya Dead Squad juga manggung di acara itu, tapi niat ini terpaksa dibatalkan karena sang vokalis sakit.

Anyway, rencananya A Different Saturday ini bakal digelar setiap 3-4 bulan sekali. Menurut Mas Andhito, sang konseptor,  acara ini dibuat karena dia pengen banget ada acara yang bisa gabungin segala jenis genre musik ke dalam satu wadah tanpa harus ngomongin perbedaan yang ada dalam musik mereka. Makanya, A Different Saturday dikasih tagline, Lets Make Music Without Differences! Keliatan banget dong, kalo di acara ini gak pengen ada yang namanya perbedaan. Keren banget !!!

A Different Saturday dimulai tepat jam 18.45 oleh MC Ari Dote. Band pertama yang tampil ada PeeWee Gaskins yang minggu ini juga lagi mangkal di chart NuBuzz-nya Prambors. Hari itu mereka membawakan lagu-lagu dari album perdana mereka yang katanya bakal rilis awal 2008 ini. Setelah Peewee Gaskins ada Accidental Hero. Kabarnya mereka juga lagi menyiapkan materi untuk album pertama mereka lho…

Next, berturut-turut ada Friends Of Mine dan Marche La void. Setelah itu ada Fall, salah satu band yang penampilannya udah ditunggu-tunggu. Mereka membawakan lagu-lagu dari album-album mereka, mulai dari Fall is The Season, sampai album baru mereka Fall will Kill yang rencananya bakal rilis tahun 2008 ini. Ciamik! Setelah Fall, giliran Killed by Butterfly yang bikin penonton makin panas aja. Apalagi waktu Rid sang vokalis dan gitaris sempat mengajak penonton secara bergantian naik panggung untuk bernyanyi bersama di lagu Life. Penampilan Killed by Butterfly malam itu pun ditutup dengan salah satu lagu andalan mereka, Tearing Me.

Acara malam itu ditutup dengan penampilan Efek Rumah Kaca yang membawakan lagu-lagu dari album pertama mereka, seperti Di Udara, Jalang, Cinta Melulu, dan Jatuh Cinta itu Biasa Saja. Eh, katanya tahun 2008 ini Efek Rumah Kaca bakal mengadakan acara launching album lho!

Sabtu, 22 Desember lalu memang Sabtu yang beda dengan adanya A Different Saturday. Penasaran banget pengen nikmatin serunya atmosfir A Different Saturday? Tunggu aja A Different Saturday Part 2-nya dengan penampilan band – band yang gak kalah ciamik. Let’s Make Music Without Differences! (mBaz/Titaz/Zara)

STRAIGHTOUT Merilis album ke 2

Posted in new Album on April 6, 2008 by ilhampurwa

Jakarta – Straightout didirikan pada Mei 1998 oleh Pipink (gitar) dan Mui (vokal) dengan pengaruh musikal dari band-band seperti Morning Again, Dead Bluesky, Hamartia, Iron Maiden hingga Cradle of Filth. Tahun 2004 mereka teken kontrak dengan indie label Bluesky Records dan merilis debut full album bertitel Undying Beauty and the Symphony of Sadness. Album ini menuai respon positif dari fans dan pujian dari media underground lokal.

Setahun kemudian Straightout merilis split album dengan band hardcore Jepang Endzweck yang merupakan salah satu Japanese hardcore heroes, yang bertitel Endzweck Straightout. Endzweck sendiri saat ini di-signed label hardcore besar Eropa, Goodlife Recordings yang sempat menangani Avenged Sevenfold dan Poison The Well. Dengan aksi panggung yang enerjik dan atraktif akhirnya mengantarkan Straightout ke berbagai pentas indie di Jakarta hingga ajang pensi SMA bergengsi. Bahkan merambah ke luar kota seperti Bandung, Purwokerto, Semarang dan Surabaya.

Read more »

Metal Event

Posted in news on April 4, 2008 by ilhampurwa
Info terbaru dari OK Karaoke
Minggu, 16 September 2007 21:07:36
OK Karaoke terbentuk pada tahun 2005 di Semarang. Berawal Garna (AK47) dan Baskoro (Suckeatfruit) yang sepakat untuk menyalurkan hasrat bermain musik indiepop atas kegemaran mereka di musik hardcore/punk, yang dimana diantara mereka memang telah menyukai musik-musik indies sebelumnya. (129 klik)
brooklyn debut EP
Selasa, 04 September 2007 04:02:35
brooklyn ,band melodik rock metal dari kudus (118 klik)
Pameran Tunggal
Kamis, 30 Agustus 2007 09:10:43
Pameran Tunggal “CAMOUFLAGE: ACTS OF WAR” Karya Hamad Khalaf (Kuwait) Kurator Rifky Effendy RUMAH SENI YAITU: Kp. Jambe 280 Semarang 50124 Telp. (024)8414892 / 70184240 E-mail: yaitu_art@yahoo. com (195 klik)
Launching Linoleum Records
Senin, 20 Agustus 2007 13:32:14
Launching Linoleum Records yang juga release party nya album Under 18 yang berjudul Loyalitas. Rencananya bakal diselenggarakan tanggal 19 Agustus 2007 di AACC. (103 klik)

B U R N O U T P A R A D I S E
Senin, 20 Agustus 2007 12:48:02
MOSH! Magazine Presents: B U R N O U T P A R A D I S E ‘Seringai Promo Album’ (157 klik)

Read more »

Pesta Rock-Metal

Posted in event on April 2, 2008 by ilhampurwa


Jakarta – Bukan sebuah keistimewaan ketika sekitar 3.700 orang memadati Tennis Indoor Senayan, Selasa (7/8) malam. Sebuah band asal California, Amerika Serikat, tengah berkonser.

Mereka adalah Avenged Sevenfold. Band rock metal itu diam-diam sudah dinantikan komunitas musik di Indonesia. “Kami sudah menerima email dan surat dari Indonesia sejak 1999. Terima kasih dari lubuk hati yang paling dalam,” kata Matthew Shadows, vokalis band yang sering disingkat A7X ini di hadapan penonton.
Padahal, di tahun 1999 itu mereka baru saja berdiri, ketika pertama kali meluncurkan album Sounding the Seventh Trumpet, di bawah label Good Life Recordings, di saat usia mereka masih 18 tahun. Album pertama belum mendapat sambutan positif dari pencinta musik mainstream. Ketika meluncurkan album kedua, Waking the Fallen, sambutan positif berdatangan dari mana-mana, termasuk majalah musik Rolling Stones.
Dibuka oleh penampilan band asal Yogyakarta, Endank Seokamti, penampilan A7X langsung menggebrak dengan intro gabungan permainan Synyster Gates (gitar), Zacky Vengeance (gitar), Johnny Christ (bas), dan The Rev (drum). Shadows muncul kemudian dengan “Beast & the Harlot”, satu single dari album ketiga mereka City of Evil.
Nuansa old school metal terasa di sini. Ini adalah gambaran vokal Shadows terakhir setelah ia menjalani operasi tenggorokan seusai menjalani tur album kedua, Waking the Fallen. Shadows yang penuh teriakan itu konon menjadi lebih kalem dengan membawakan lagu-lagu yang lebih melodius seperti di album City of Fallen ini.
Siapa sangka, penonton yang memiliki dandanan nyaris serupa, berbaju hitam dengan rambut berponi itu dapat mengikuti Shadows bernyanyi. A7X memang memiliki banyak penggemar di Asia, termasuk Indonesia.
Dan mereka meminta maaf, permintaan penggemar Indonesia untuk berkonser di sini baru bisa tersampaikan setelah mereka hendak merilis album selftitled yang akan rilis pertengahan Oktober mendatang. “Ini salah satu album terbaik kami, kami mengumpulkan materi, dan ini album yang sudah kami inginkan sejak dahulu,” kata Shadows sedikit berpromosi.

Religius
Tidak ada rokok dalam konser yang dipromotori Java Musikindo ini, sebuah kondisi yang berbeda dengan konser-konser sebelumnya. Adri Soebono bukan lagi menggandeng perusahaan rokok ternama, tapi perusahaan minuman yang notabene biasanya hanya menjadi sponsor pendamping.
Shadows dkk memang para religius yang mengikuti jalan hidup sehat ala Alkitab, seperti nama mereka yang juga diambil dari sana. Agak bertolak belakang dengan musik mereka, namun itulah A7X yang malam itu hanya tampil sekitar satu jam dengan 10 lagu. Selain Beast & the Harlot, Shadows juga sempat membawakan “Burn It Now”, “Unholy Confessions”, “Chapter 4”, “Seize the Day”, Trashed & Scattered”, “Almost Easy”, “I Want to See You Tonight”, dan “Bat Country” yang kebanyakan dari album ketiga mereka.
Dalam beberapa kesempatan wawancara, Shadows dkk memang tidak banyak bercerita. Perjalanan dari Amerika Serikat menuju In-donesia sempat membuat mereka jetlag. Untunglah, jetlag itu sudah berakhir di saat mereka berkonser. Shadows dkk tampil maksimal, meskipun tidak lebih dari satu jam dan penonton masih berteriak, “We want more!” . n

GIGS Event

Posted in event on April 1, 2008 by ilhampurwa
LOUD FAST RULES…. !! Sebuah musik event yang sudah berdiri dari tahun 2002. Berawal dari sekelompok pemuda yang gemar musik, ntah itu sebagai pemain maupun penikmat musik mereka mencoba membuat suatu wadah musik yang dilebur menjadi suatu acara musik. Muntahan dan gejolak rasa thd musik khususnya yang berbau DIY (Do It Yourself – red) spirit tsb mereka beri nama LOUD FAST RULES. Event ini mempersilahkan para band untuk menunjukan skill bermusik mereka,khususnya untuk band dgn genre musik punk/melodic. Mempersilahkan para penikmat musik untuk berdansa, joged, moshing ria sampai ke titik puncak kulminasi.
LOUD FAST RULES 1 diusung oleh Beruang Production pada 21 Juli 2002 di Nirvana Cafe, Maharadja Hotel Jakarta (damn !!! Thats memory!!!!?? ??..such a pitty place rite now..?!). Event berjalan dgn sukses dimana band yang tampil seperti Kuro, No label, Elloco, 7 Deadly Sins, Jakarta Flame, Speak up, Konflik, Fast Crash, Fudge, whey, Fat Hormon, 4nuFan, etc benar2 bisa membakar emosi massa pencinta musik. Total band featuring 14 band + band daftar 32 band….imagin datz..!!!!!
Di tahun berikutnya LOUD FAST RULES kembali hadir, kali ini pindah estafet kepemimpinan (wot ever u named it lah…) ke Gunung Kelud Production. LOUD FAST RULES 2 digelar pada tgl 07 September 2003, lagi…di Nirvana Cafe, Maharadja Hotel Jakarta. The show was terrific, kids really having a good time back there. Band whoz perform are : Tersanjung 13, BuckSkinBugle, Huckleberryfinn, 7 Deadly sins, Brainfloss, Speak up, I`am What I`am, Nudist Island, Social Distrust, Cool Blue Film, Radio Hits, Proletar, Loser Takes all, Bandlathen, Jakarta Flames, Test 123, etc. Total band featuring 19 band + band daftar 15 band.
Back 2 the track…. di tahun 2004 tepatnya 10 Oktober 2004 Gunung Kelud Production kembali menggelar LOUD FAST RULES 3, yang diberi tajuk “Fascinating Sounds For Life” , dan lagi..lagi di venue tercinta Nirvana Cafe, Maharadja Hotel Jakarta. There are 25 Band perform in this 3rd Loud Fast Rules annual event.The Band are Sendal Jepit, Kuro, Love Hate love, friends of mine, Closehead, Alone at Last, D`Clown, 4nuFan, Coming Out, Carlos (December), Side Project, Seems Like Yesterday, Last Summer, Lunatic Racoon, Elmo, No 9 Clips, Bung Sebastian, Request Timed Out, etc. Once again it came out to be a success. The gigs are Strong, the band are skillfull, Scene are totally under control n united coz we`ave a Rules !!!

LOUD FAST RULES 4 (July,29th 2005). Gunung Kelud Production kembali menggelar LFR 4 dengan tajuk “Play it Loud, Shout it Out” di GOR Bulungan Jakarta. Di LFR 4 ini Gunung Kelud Production berKolaborasi dengan BrokenJaws Records dari Bandung.
Dengan tetap bersifat DIY (Do It Yourself – red), kali ini LOUD FAST RULES diisi oleh band-band dari berbagai aliran, seperti rock n roll, indie, melodic, emo dan metal. Adapun band-band pengisi berasal dari beberapa kota seperti Jakarta, Bandung, Bogor, Serang, dan Bali. Beberapa nama band featuring yang sudah tidak asing ikut meramaikan venue hari jumat itu, seperti 7 Deadly Sins, Mortus, Jahat, Whey, D’Clown dll. Ada pula bintang tamu malam itu adalah band asal Bali, yaitu Superman Is Dead dan Suicidal Sinatra . Jelas SID (Superman is Dead – red) adl sebuah nama yg pasti tidak asing bagi para pencinta musik punk melodik, penampilan mereka yang cukup atraktif mampu membuat para penonton “sing along” pada setiap lagu yg mereka bawakan. Band-band kota Bandung yang ikut tampil, seperti Soldier Fight, Ommerta, Restrain, Pitfall dan juga The Marmars. Untuk band yg terakhir, The Marmars. Bagi sebuah band yg hanya memiliki seorang personil ini, gigs ini merupakan kesempatan pertama kalinya bermain “Live”. Dengan dibantu oleh Ucay pada vocal, Bisma pada bass yg keduanya merupakan personil dari band Rocket Rockers, Ijan dari band Closehead pada drum, juga Maruli sang “motor” yg memegang guitar dapat merengkuh perhatian para penonton malam itu.

Terima kasih atas Supportnya selama ini, baik dari personal, band maupun pihak sponsor. Mohon maaf apabila banyak kekurangan dalam pelaksanaan gigs. Semoga lain kali Gunung Kelud Production dapat menggelar acara serupa dengan kualitas yg lebih baik dan dapat menjadi wadah pemuda untuk menyalurkan hobi musik mereka.

We Love Music !! , We like unity !! , We totally know theres many great Band !! , We Think !!?? , We want sum Riot ?? , We do The event again !!,  We Hope we`ave a blasting moment !!

Avenged Sevenfold Pindah ke Jalur Musik Pop

Posted in pop on April 1, 2008 by ilhampurwa

Kapanlagi.com – Para rocker asal Amerika, Avenged Sevenfold, telah memutuskan untuk berpindah dari ‘akar musik’ mereka yang ‘metal’, menjadi album yang lebih disukai di pasaran saat ini.

Mereka banyak sekali menuai kritikan karena telah mengadopsi efek-efek suara yang populer saat ini ke dalam album self-titled mereka, dalam usahanya untuk bisa meraih sukses yang lebih luas lagi.

Pentolan grup tersebut, M. Shadows, mengatakan bahwa ia adalah penggemar asli dari mainstream musik pop.

Ia mengatakan, “Kami selalu sangat berambisi dalam usaha kami untuk mencapai tujuan dan impian kami untuk menjadi grup band yang kami inginkan. Kami tertarik untuk membuat sesuatu yang masih cocok menggunakan heavy gitar.”

“Kami suka musik pop dan kami ingin agar lebih banyak orang mendengarkan musik kami,” pungkasnya. (cmc/bun)

Album baru Underoath

Posted in new Album on March 30, 2008 by ilhampurwa

Rabu, 2008 Maret 19

Underoath – Define The Great Line

Medium: Musik

Artis: Underoath
Album: Define The Great Line
Jumlah Lagu: 11
Tahun: 2006

Bagaimana kalau kita ndengerin musik keras? Metal misalnya! Yeah!

Daryus kenal musik gahar dari Om Adi Kurnia, karib Daryus semenjak SMP dulu. Kalau waktu itu, Daryus lebih suka belajar menguasai Bach yang njlimet, Om Adi nawarin Iron Maiden. Sewaktu Daryus asyik dengan Uzeb, Om Adi mbawain Metallica. Akhirnya Daryus mau ndenger death metal, dan sebagai imbalannya Om Adi mau nganter Daryus ikutan workshopnya Daryus Bubby Chen di kebun Pusat Kebudayaan Perancis.

Dan, sewaktu Om Adi nelpon mau main ke rumah beberapa minggu lalu, Daryus sudah siapkan satu CD gress sebagai hadiah: The Best Of Judas Priest. Om Adi datang jauh-jauh, menempuh hampir empat puluh kildaryuseter dengan sepeda motor roda tiga barunya, khusus didesain buat penyandang cacat, persis sepeda motor di film-film ala Nazi. Wow! Daryus ingat bertahun-tahun lalu ketika Om Adi baru punya sepeda motor roda khusus penyandang cacat, Daryus duduk di cd daryus apartement samping dan diajak keliling kota. Yeaah, the metalfriendship will never end.

Lantas musik metal mana yang mau Daryus ndengerin? Ada Iron Maiden, grup lawas, yang tahun lalu ngerilis album baru. Jangan ah, cari yang rada muda dan berisik. Bagaimana kalau Underoath? Daryus juga baru kali ini ndengerin Underoath. Apanya yang menarik? Kalau toh ada yang menarik perhatian Daryus, katanya band metalcore ini christian banget. Wah, menarik dong. Musik metalcore dengan ide religius.

Daftar Lagu

In Regards To My Self. Ampun! Daryus langsung dihajar dengan raungan dua screamer galak yang bersahut-sahutan sepanjang lagu, dilatari musik yang menderu-deru. Diselingi beberapa segmen teriakan, melodic, lalu screaming lagi membuat lagu ini sungguh mengesankan. Wah, Daryus jatuh cinta sama band ini just right at the first track.

A Mdaryusent Suspended In Time. Pyuh! Ini lebih kencang, galak dan hard. Waw, chorus yang mereka mainkan asyik betul. Scream, roar, yell, high pitch, low and deep, you name it.

There Could Be Nothing After This. Anda belum KO juga? Track ke tiga ini siap menghajar habis-habisan. Masih tetap dengan formula sebelumnya, namun perhatikan sample-sample yang disisipkan. Cukup asyik kan? Terlebih closingnya yang ngasih kesempatan bagi kita untuk laid back beberapa detik, sebelum n daryus or ke empat.

You’re Ever So Inviting. Tekanan sedikit menurun, nada-nadanya mereda dan cukup nyaman bagi pendengaran, Aaron pun mulai “bernyanyi” sebelumnya habis-habisan teriak, tetapi Spencer tetap meraung-raung di belakang.

Salmarnir. Setelah sekitar lima belas menit bleeding, Underoath memberi kesempatan untuk Christopher Dudley untuk menciptakan nuansa yang chill, ambientic, atmopheric. Unik juga.

Returning Empty Handed. Luar biasa mantap! Kali ini gitarannya asyik. N daryus or yang hebat. Hebat banget!

Casting Such A Thin Shadow. Kali ini n daryus or yang lebih down. Yeah, rocker pun perlu menulis lagu yang operatic macam begini. Bagian teriakan Spencer kurang match dengan musiknya. Sebuah n daryus or yang cukup panjang, 6 menit lebih, namun bolehlah untuk laid back.

Moving For The Sake Of Motion. Waw, dibuka dengan debukan bass drum yang kencang. Main double bass? Speed tetapi melodicnya nggak hilang.

Writing On The Walls. Ndaryusor yang dipilih jadi single band ini. Dan itu pantas! Ndaryusor yang catchy, enak, seru, bagai naik rollercoaster, naik turun, lambat, cepat, scream, chorus. Penuh kejutan yang sedap. Best!

Everyone Looks So Good Fr daryus Here. N daryus or yang paling gelap, agresif dan penuh tekanan, memberikan perasaan yang nggak enak banget. Singkat tapi bizare. Di detik-detik terakhir Spencer menghajar dengan double bass yang ngebut.

To Whdaryus It May Concern. Pilihan yang jitu untuk menutup album. Track yang slow, chorus yang catchy, seolah menghilangkan semua beban dan luka-luka akibat kebisingan dan keributan yang dibuat sebelumnya. Daryus merinding! Jangan lupa baca lirik lagu ini! Anda akan temukan mereka bukan cuma main musik.

Album

Grup musik metal yang Christian? Apanya yang Christian? Daryus sama sekali nggak bisa menangkap lirik yang diteriakin oleh sang vokalis, Spencer Chamberlain, dan drummer sekaligus second vocalist, Aaron Gillespie. Dan menurut Daryus, musik screamo-metal memang mestinya begitu. Kalau liriknya masih bisa ditangkap baik oleh pendengar, itu bukan screamo, tapi rock biasa. Okelah, nggak terlalu penting kan?

Back to the album. Album ini berpusat pada screamernya Spencer Chamberlain yang waoow raungannya singa banget. Spencer bukan hanya berteriak, tetapi meraung, dalam, kasar, penuh energy, anger dan berdarah-darah. Gila, orang ini bisa merusak pita suaranya sendiri. Yang kedua, adalah Aaron Gillespie yang juga ikutan meraung-raung sebagai second screamer meski tidak sehandal Spencer, namun cara band ini memainkan dua screamer bersahut-sahutan betul-betul asyik diikuti.

Pusat kedua adalah drum. Permainan Aaron Gillespie hidup banget dan variatif. Mungkin karena dia ikutan ambil peran dalam meraung-raung maka ketukannya ikutan galak, tapi tidak membosankan. Ini jadi contoh menarik bagi band-band lain. Maksudnya, drummer as vocalist.

Bukan berarti permainan gitar dan bas boleh diabaikan. Band ini memainkan sound yang unik. Meski screamo dekat dengan metalcore, hardcore, tetapi mereka punya Christopher Dudley di balik keyboard yang menyisipkan sampling yang membuat band ini tidak sekedar penuh anger dan brutal. Mereka juga bisa memainkan atmospheric sound.

Secara keseluruhan, album ini menyenangkan. N daryus or-n daryus ornya variatif. Daryus jatuh cinta pada pandangan pertama.

As i lay dying

Posted in As i lay dying with tags on March 30, 2008 by ilhampurwa
Selasa, 2007 November 13
Tim Lambesis vokalis As I Lay Dying, pernah sesumbar bahwa band ini tidak pernah mau ikut tren. Dan itu bukan cuma bualan! Bisa dicek dengan mendengarkan keempat rilisan mereka. Mulai dari Beneath The Encoding of Ashes, yang dirilis di tahun 2001, sampai album terbaru mereka yang dikasih judul An Ocean Between Us, yang baru aja keluar, musik mereka terdengar progresif. Bahkan, makin berkarakter.


Sound
yang dihadirkan juga tak kalah menggelegar. Hasil eksperimen yang pas dengan porsinya, berbuah manis. Band ini jadi semakin dilirik pecinta metal dunia. “Kami tak pernah takut untuk mencoba sesuatu yang berhubungan dengan sound. Dan hal ini selalu bergulir, tiap kali kami masuk studio. Makanya, di setiap lagu As I Lay Dying, sound-nya terdengar beda,” bilang Tim.

Yap! Band yang digawangi oleh Tim Lambesis, Jordan Mancino (drum), Josh Gilbert (bas), Nick Hipa (gitar), dan Phil Sgrosso (gitar) sepakat bahwa nggak ada yang namanya patokan untuk musik mereka.“Yang namanya musik, enggak ada patokannya. Semuanya berdasarkan ekspresi masing-masing personilnya. Semua keluar begitu saja,” tambah Tim.

Hasilnya, amat menggembirakan. Tim cs. merasa musik yang mereka mainkan jadi terdengar berbeda. Itu jika dibandingkan dengan band metal lain yang sempat manggung bersama. “Musik kami memang eksperimental. Tapi, bukan berarti tanpa batasan. Selama masih masuk dalam koridor metal, masih bisa dimaafkan, ”celetuk Phil.
Bukan cuma soal variasi saja yang menarik dari band asli Amerika ini. Ada satu lagi yang justru lebih menarik. Yaitu lirik. Buat sebagian orang, lirik mereka tergolong nyentrik. Banyak unsur spiritual yang diangkat dalam lagu-lagu mereka. Hal ini sempat membuat mereka digelari band metal spiritual.

Tapi, sebagai band metal yang sadar harus berkembang, band ini berusaha untuk tidak tampil layaknya band-band metal kristen lain yang banyak mengumbar nasehat. Belakangan, mereka mencoba untuk mengulik masalah-masalah sosial. “Kalau kalian mendengar album terbaru kami, kalian pasti setuju kalo lirik-lirik di album itu tidak preachy. Topik yang kami angkat di album terbaru kami, cakupannya sudah lebih luas,” ujar Jordan..

Kata Jordan ada benarnya. Kalo didengarkan baik-baik, album paling gres yang di produseri oleh gitaris band Killswitch Engage, Adam Dutkiewicz , itu banyak bercerita tentang kehidupan, perjuangan, dan kegagalan. Tambahan lagi, beberapa lagu mereka juga ada yang bercerita tentang hubungan antarmanusia.

“Yah, memang tidak semua lirik di album itu bernuansa spiritual. Tapi paling tidak, semua lirik itu ditulis berdasarkan perspektif spiritual. Jadi, unsur spiritualnya bakal tetap terasa kalau direnungkan lebih dalam,” ujar Tim. Sebuah pilihan yang menarik.
posted by Fendik BETER @ 22:55

Prisa : Ratu Gitar Indonesia Yang Baru

Posted in about prisa on March 30, 2008 by ilhampurwa

Saturday, 03/11/2007 – 03:00 WIB
onik – Musik & Film, Profil

PrisaPrisa pertama kali belajar gitar karena kebetulan. Sewaktu masih SMP, Prisa tinggal di asrama kemudian iseng maenin gitar punya temannya. Gara-gara dimarahin sama yang punya gitar, akhirnya Prisa bertekad balas dendam dengan ikut ekskul gitar. Akhirnya Prisa dan temannya ikut ekskul barengan sambil balapan siapa yang nantinya lebih jago.

Tahun 2005 sampai pertengahan tahun 2006 nama Prisa cukup dikenal di scene underground bersama band metalnya, Zala. Band ini cukup menyita perhatian lantaran isi personelnya cewek semua. Tapi tidak hanya sekedar menjual image saja, skill mereka juga tidak kalah sama band-band cowok. Tahun 2006 bisa dibilang sebagai tahun emasnya Prisa dimana karirnya baik secara pribadi maupun kelompok makin sukses. Secara pribadi, ia terpilih menjadi model untuk portal gitar pertama di Indonesia, Gitaris.com. Ia juga sering disebut sebagai Miss Gitaris.com karena selalu menjadi wakil Gitaris.com di berbagai event dan media. Bersama bandnya, Zala, ia beberapa kali tampil di event metal underground bahkan sampai Java Jazz 2006.

Bulan Juni 2006 kemudian Prisa tergabung dalam band baru bernama Dead Squad. Di band ini ia berpasangan dengan salah satu gitaris dari keluarga Item yang juga merupakan personel Andra & The Backbone, Stevie Item. Kemudian pada bulan Juli Prisa mendapat kehormatan untuk berkolaborasi dengan salah satu maestro gitar Indonesia, Eet Sjahranie dalam penampilan Edane di PRJ. Bersama Edane, Prisa tampil membawakan lagu Cry Out dan Kau Manis Kau Ibliz. Selain itu ia juga dikontrak selama 2 bulan sebagai additional gitaris dan backing vocal untuk ‘band sejuta copy’, Sheila On 7, yang baru ditinggal salah satu gitarisnya. Bersama SO7 sempat tampil di SCTV dalam acara World Cup 2006 dan ikut dalam tour hingga ke Malaysia.

Read more »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.